Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian dan Ruang Lingkup Viktimilogi Menurut Ahli

Pengertian dan Ruang Lingkup Viktimilogi Menurut Ahli

Kepoingue.com - Viktimologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan tindak pidana (kejahatan) dan korban, seperti sebab-sebab timbulnya korban, akibat-akibat yang ditimbulkan dengan adanya korban, dan berbagai hal tentang korban yang menjadi permasalahan manusia sebagai kenyataan sosial. Sedangkan fokus viktimologi ini terletak pada korban itu sendiri, yaitu bagaimana seseorang dapat menjadi korban.

Pengertian Viktimologi Upaya untuk mengatasi maraknya tindak pidana dan penanggulangan tindak pidana tidak hanya terfokus pada timbulnya tindak pidana atau metode yang digunakan dalam penyelesaian para pelaku tindak pidana saja. Namun lebih dari itu, hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami adalah masalah korban adanya kejahatan atau tindak pidana itu sendiri, yang kemungkinan dalam keadaan tertentu dapat menjadi pemicu munculnya tindak pidana berikutnya. Saat berbicara tentang korban tindak pidana, maka kita tidak bisa terlepas dari Viktimologi.

Viktimologi dilihat dari etimologi, berasal dari bahasa latin victim yang berarti korban dan logos yang berarti ilmu. Secara terminologis, viktimologi berarti suatu studi yang mempelajari tentang korban, penyebab timbulnya korban, dan akibat-akibat yang harus dihadapi korban yang merupakan masalah manusia sebagai suatu kenyataan sosial. Akibat adanya korban merupakan sikap atau tindakan terhadap korban yang dilakukan oleh pihak pelaku serta mereka yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam terjadinya suatukejahatan atau adanya tindak pidana.

Viktimologi mempunyai artian sempit dan artian yang luas. Dalam artian sempit, yang dimaksud viktimologi adalah ilmu yang mempelajari korban, dan yang dimaksud korban disini adalah korban akibat adanya tindak pidana. Sedangkan dalam artian luas, viktimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang korban yang meliputi korban dari berbagai bidang antara lain korban pencemaran lingkungan, korban perang, korban kesewenang-wenanganan. Termasuk penyalahgunaan kekuasaan ekonomi yang bersifat ilegal dan penyalahgunaan kekuasaan publik yg bersifat ilegal.

Korban dalam ruang lingkup Viktimologi mempunyai arti yang luas sebab tidak hanya terbatas pada individu yang nyata-nyata menderita kerugian, tapi juga dapat terjadi pada kelompok orang, korporasi, swasta maupun pemerintah. Dalam Bahasa Inggris ilmu yang mempelajari korban disebut dengan Victimology. Viktimologi merupakan suatu ilmu pengetahuan atau studi yang mempelajari suatu viktimalisasi (criminal) sebagai suatu permasalahan manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial.

Pengertian viktimologi mengalami tiga fase perkembangan. Pada awalnya, viktimologi hanya mempelajari korban kejahatan saja. Pada fase ini dikatakan sebagai penal or special victimology. Pada fase kedua, viktimologi tidak hanya mengkaji masalah korban kejahatan saja tetapi meliputi korban kecelakaan. Pada fase ini disebut sebagai general victimology.

Fase ketiga, viktimologi sudah berkembang lebih luas lagi yaitu mengkaji permasalahan korban penyalahgunaan kekuasaan dan hak-hak asasi manusia, pada fase ini dikatakan sebagai new victimology. Bahkan pada akhir-akhir ini pengertian viktimologi mengalami perkembangan hingga pada korban akibat pengrusakanalam yang biasa disebut dengan “Green Victim” seperti korban akibat penggundulan hutan, kebakaran hutan pengrusakan hutan dan lain sebagainya.

Viktimologi Menurut Ahli Menurut J.E.Sahetapy pengertian Viktimologi adalah ilmu atau disiplin yang membahas permasalahan korban dalam segala aspek, sedangkan menurut Arief Gosita2 Viktimologi adalah suatu bidang ilmu pengetahuan yang mengkaji semua aspek yang berkaitan dengan korban dalam berbagai bidang kehidupan dan penghidupannya.

Viktimologi memberikan pengertian yang lebih baik tentang korban tindak pidana sebagai hasil perbuatan manusia yang menimbulkan penderitaan mental, fisik, dan sosial. Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan mengenai peran yang sesungguhnya para korban dan hubungan pelaku tindak pidana dengan para korban serta memberikan keyakinan dan kesadaran bahwa setiap orang mempunyai hak mengetahui bahaya yang dihadapi berkaitan dengan lingkungannya, pekerjaannya, profesinya dan lain-lainnya.

Pada saat berbicara tentang korban tindak pidana, cara pandang kita tidak dapat dilepaskan dari viktimologi. Melalui viktimologi dapat diketahui berbagai aspek yang berkaitan dengan korban, seperti : faktor penyebab munculnya tindak pidana, bagaimana seseorang dapat menjadi korban, upaya mengurangi terjadinya korban tindak pidana, hak dan kewajiban korban dalam menyelesaikan tindak pidana yang menimpanya.

Menurut kamus Crime Dictionary yang dikutip Bambang Waluyo3 : Victim adalah orang yang telah mendapatkan penderitaan fisik atau penderitaan mental, kerugian harta benda atau mengakibatkan kehilangan nyawanya (mati) atas perbuatan atau usaha pelanggaran yang telah dilakukan oleh pelaku tindak pidana dan lainnya. Dalam kamus ilmu pengetahuan sosial disebutkan bahwa viktimologi adalah studi yang mempelajari tentang tingkah laku viktim sebagai salah satu penentu terjadinya tindak pidana.

Selaras dengan pendapat di atas adalah Arief Gosita yang berpendapat mengenai pengertian viktimologi itu sangat luas, dan beliau menyatakan bahwa yang dimaksud dengan korban adalah : mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan diri sendiri atau orang lain dalam konteks kerakusan individu dalam memperoleh apa yang diinginkan secara tidak baik dan sangat melanggar ataupun bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita (korban).

Sebab dalam kenyataan sosial yang dapat disebut sebagai korban tidak hanya korban tindak pidana (kejahatan) saja tetapi dapat juga korban bencana alam, korban kebijakan pemerintah dan lain-lainnya. Korban juga didefinisikan oleh Van Boven yang merujuk kepada Deklarasi Prinsip-prinsip Dasar Keadilan bagi Korban Kejahatan dan Penyalahgunaan Kekuasaan sebagai berikut : Orang yang secara individual maupun kelompok telah menderita kerugian, termasuk cedera fisik maupun mental, penderitaan emosional, kerugianekonomi atau perampasan yang nyata terhadap hak-hak dasarnya, baik karena tindakannya (by act) maupun karena kelalaian (by omission).

Ruang Lingkup Viktimologi Viktimologi sebagai bidang ilmu yang mempelajari tentang korban, akhir-akhir ini telah banyak menarik minat para sarjana, terlebih lagi telah diajarkan di beberapa fakultas hukum di seluruh Indonesia. Saat ini kajian mengenai viktimisasi kriminal telah berkembang ke tahapan di mana viktimologi dipandang sebagai komponen utama terhadap kajian mengenai tindak pidana dan kriminologi.

Untuk membahas ruang lingkup viktimologi menurut Paul Separovic bergantung pada batasan konsep tentang korban, dimana terjadinya korban bukan hanya karena adanya tindak pidana saja. Atau dengan kata lain terjadinya korban juga dapat disebabkan oleh faktor yang non-crime. Viktimologi meneliti topik-topik tentang korban, seperti peranan korban pada terjadinya tindak pidana, hubungan antara pelaku dengan korban, rentannya posisi korban dan peranan korban dalam sistem peradilan pidana.

Menurut Andrew Karmen yang menulisteks viktimologi dengan judul “Crime Victims An Introduction To Victimology” tahun 1990 secara luas mendefinisikan viktimologi sebagai studi ilmiah mengenai viktimisasi yang meliputi : 1. Hubungan antara korban dan pelaku 2. Interaksi antara korban dan sistem peradilan pidana, yaitu polisi dan pengadilan, serta pejabat lembaga pemasyarakatan 3. Hubungan antara korban dan kelompok sosial dan lembaga-lembaga lainnya seperti media, bisnis, dan gerakan sosial.

Menurut J. E. Sahetapy ruang lingkup viktimologi meliputi bagaimana seseorang (dapat) menjadi korban yang ditentukan oleh suatu victimity yang tidak selalu berhubungan dengan masalah tindak pidana, termasuk pula korban kecelakaan, dan bencana alam selain darikorban tindak pidana dan penyalahgunaan kekuasaan.

Objek studi atau ruang lingkup viktimologi menurut Arief Gosita sebagai berikut: a. Berbagai macam viktimisasi kriminal atau kriminalistik b. Teori-teori etiologi viktimisasi kriminal c. Para peserta yang terlibat dalam terjadinya atau eksistensi suatu viktimisasi kriminal atau kriminalistik, seperti para korban, pelaku, pengamat, pembuat undang-undang, polisi, jaksa, hakim, pengacara dan sebagainya d. Reaksi terhadap suatu viktimisasi kriminal e. Respons terhadap viktimisasi kriminal argumentasi kegiatankegiatan penyelesaian suatu viktimisasi atau viktimologi, usahausaha prevensi, represif, tindak lanjut (ganti kerugian), dan pembuatan peraturan hukum yang berkaitan f. Faktor-faktor viktimogen/ kriminogen.

Ruang lingkup atau objek studi viktimologi dan kriminologi dapat dikatakan sama, yang berbeda adalah titik tolak pangkal pengamatannya dalam memahami suatu viktimisasi kriminal, yaitu viktimologi dari sudut pihak korban sedangkan kriminologi dari sudut pihak pelaku. Masing- masing merupakan komponen-komponen suatu interaksi (mutlak) yang hasil interaksinya adalah suatu viktimisasi kriminal atau kriminalitas. Suatu viktimisasi antara lain dapat dirumuskan sebagai suatu penimbunan penderitaan (mental, fisik, sosial, ekonomi, moral) pada pihak tertentu dan dari kepentingan tertentu.

Menurut J.E. Sahetapy, viktimisasi adalah penderitaan, baik secara fisik maupun psikis atau mental berkaitan dengan perbuatan pihak lain. Lebih lanjut J.E. Sahetapy berpendapat mengenai paradigma viktimisasi yang meliputi: a. Viktimisasi politik, dapat dimasukkan aspek penyalahgunaan kekuasaan, perkosaan hak-hak asasi manusia, campur tangan angkatan bersenjata diluar fungsinya, terorisme, intervensi, dan peperangan lokal atau dalam skala internasional b. Viktimisasi ekonomi, terutama yang terjadi karena ada kolusi antara pemerintah dan konglomerat, produksi barang-barang tidak bermutu atau yang merusak kesehatan, termasuk aspek lingkungan hidup c. Viktimisasi keluarga, seperti perkosaan, penyiksaan, terhadap anak dan istri dan menelantarkan manusia lanjut atau orang tuanya sendiri d. Viktimisasi medical, dalam hal ini dapat disebut penyalahgunaan obat bius, alkoholisme, malpraktek di bidang kedokteran dan lainlain e. Viktimisasi yuridis, dimensi ini cukup luas, baik yang menyangkut aspek peradilan dan lembaga pemasyarakatan maupun yang menyangkut dimensi diskriminasi perundang-undangan, termasuk menerapkan kekuasaan dan stigmatisasi kendatipun sudah diselesaikan aspek peradilannya.

Viktimologi dengan berbagai macam pandangannya memperluas teori-teori etiologi kriminal yang diperlukan untuk memahami eksistensi kriminalitas sebagai suatu viktimisasi yang struktural maupun nonstruktural secara lebih baik. Selain pandanganpandangan dalam viktimologi mendorong orang memperhatikan dan melayani setiap pihak yang dapat menjadi korban mental, fisik, dan sosial.