Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tugas Yang Belum Selesai

Tugas Yang Belum Selesai

Kepoingue.com - Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan kontestasi yang paling aneh dan panas dalam sejarah demokrasi Indonesia. Umpatan, caci mencaci merupakan hal yang biasa selama putaran pilkada tersebut, dari cebong hingga kadrun tidak luput trending topik di media sosial.

Selain caci maki, kasus penistaan surat Al-Maidah memperkeruh cita-cita demokrasi yang diperjuangkan pendiri bangsa tampak terkikis perlahan oleh setiap politisi dan pendukungnya. Simbolisasi keagamaan menempati urutan pertama bermain politik di Indonesia kala pilkada 2017 lalu, selain itu kesukuaan asen, asing, dan pribumi mencuat hebat dimainkan sebagai wadah untuk meraup sebanyak-banyaknya suara pemilih agar bisa melanggengkan sang politisi menuju orang nomor satu.

Sayangnya, politisi yang menunggangi seolah-olah tutup mata dan memilih sembunyi tangan setelah melempar isu ke publik. Isu keagamaan ini bukan berakhir setelah selesai kontestasi tersebut, semakin bertumbuh dan subur dikalangan masyarakat. Terlebih, isu ini tidak lagi di satu tempat namun sudah menyebar hampir seluruh wilayah Indonesia, hal ini membuat saya mengingat satu kalimat dalam buku yang dituliskan oleh Karl Marx, dalam bukunya yang berjudul: A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right.

Salah satu kutipan yang menjadi poin penting dalam buku ini ‘agama adalah candu’ dalam tulisan buku nya yang berbahasa Jerman di tuliskan dengan kalimat ‘Die Religion ist das Opium des Volkes’. Hal ini mungkin sangat cocok untuk menggambarkan penerapan agama yang dilakukan oleh masyarakat, serta penunggangan politik menggunakan agama.

Beberapa kasus menunjukan egoisme beragama di Indonesia, sangat jelas ditampilkan ketika beberapa media massa memberitakan bahwa ada beberapa masjid di wilayah kontestasi pilkada 2017 yang tidak menginginkan menyolatkan jenazah yang mendukung salah satu kontestasi. Ini membuat agama di Indonesia terutama, merupakan ladang basah untuk memperoleh suara pemilih dan psikologi politik.

Peran tokoh agama tidak begitu menjadi masukan, terlebih banyak tokoh agamawan di Indonesia juga merupakan orang-orang yang akrab dengan dunia politik keruh di negara ini. Terlebih bergesernya pandangan terhadap Islam, dimana sebelumnya sebagai agama yang terbuka menjadi agama yang sangat eksklusif. Hal ini, juga dicerminkan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia dimana dengan dalil-dalil agama untuk menghukum dan membumihanguskan budaya agama lain.

Menurut Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk 'aku' menjadi 'ana’, 'sampeyan' jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi'. Kita pertahankan milik kita. Kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya. Terlebih Gus Dur juga menekankan dalam pesannya: Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah. Perbedaan itu fitrah. Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.

Sebagian masyarakat merasakan, bagaimana pergeseran arah politik agama dan isu agama di Indonesia saat ini. Kalimat kafir-mengkafirkan, wajib dibunuh, halal darahnya, tidak beradab, penista agama, dan lainnya seolah-olah sudah menjadi tradisi yang bisa dimaklumi. Inilah membuat sebagian orang memilih untuk tidak memperdulikan apalagi yang terjadi dan lebih memilih menjadi individualis.

Klaim-klaim bahwa agama yang dipeluk merupakan yang paling benar dan klaim sebagai seorang penganut keyakinan yang paling baik (benar), sering terjadi dan dilontarkan di media sosial. hal inilah menimbulkan egoisme dan menimbulkan jurang-jurang pemisah antara diskusi dan adu jotos.

Sebagai Presiden pertama Indonesia dan bapak bangsa ini, Bung Karno memberikan pesan dalam pidatonya menyangkut ajaran agama dan kehidupan berketuhanan:

“Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme-agama’.

Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain. Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (toleransi), tentang menghormati agama- agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid.

Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, adalah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!”

Bung Karno menegaskan sangat jelas, 'kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini’. Dalam artian, Bung Karno berpesan untuk setiap pemeluk agama di tanah air Ibu Pertiwi ini, hendaknya jangan menjadi orang yang anti akan perbedaan dan tetap sebagai pemeluk Bhineka Tunggal Ika.

"Al-quran mendatangkan revolusi batin manusia. Alquran mendatangkan revolusi dalam pandangan manusia terhadap Tuhan. Al-quran mendatangkan revolusi ekonomi. Al-quran mendatangkan revolusi mengenai hubungan manusia dengan manusia, dus revolusi sosial. Al-quran mendatangkan revolusi yang mengadakan perubahan mutlak, membentuk manusia baru. Al-quran mendatangkan revolusi moral, moral yang meliputi seluruh dunia," beber Bung Karno saat menyampaikan amanat pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, 6 Maret 1961.

Pribumisasi Islam di Indonesia, bukan sekedar gimmick belaka dan datang tiba-tiba dimana sebelum Indonesia terbentuk sebagai negara dan masih berbentuk Nusantara yang dipimpin oleh kerajaan kecil, Walisongo saja menyebarkan Islam di Nusantara dengan kearifan lokal. Hal ini masih bisa ditemukan dalam beberapa sejarah, beberapa masih bisa ditemukan.

Seperti Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) yang dipercaya sebagai keturunan dari Nabi Muhammad. Wali yang disebut Sunan Gresik ini dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Pulau Jawa. Selain berdakwah, Sunan Gresik mengajarkan cara baru dalam bercocok tanam,Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik.

Pengajaran dan peyebaran pemahaman Islam melalui pendekatan yang halus maka secara perlahan agama Islam dapat disebarkan dengan baik. Selain itu ajaran ‘Malimo’ dari Sunan Ampel dan anak nya Sunan Bonang yang mengajarkan Islam melalui pendidikan serta kesenian gamelan dengan memainkan rabab dan bonang.  Sunan Giri terkenal dengan dakwahnya yang membawa keceriaan, yang mana di tengah dakwahnya, ia menyelipkan tembang yang riang seperti cublak cublak suweng, lir ilir, dan jamuran.

Selain itu, ajaran Sunan Kalijaga menjadikan Demak sebagai pusat dakwahnya. Dimana, ia berdakwah menggunakan pendekatan budaya dan kesenian yaitu wayang kulit serta tembang suluk. Ciri khas dari dakwahnya adalah toleransinya terhadap budaya dan tradisi setempat yang secara bertahap ia tanamkan kesadaran akan nilai-nilai Islam pada budaya masyarakat.

Hal ini, sangat jauh berbeda ajaran agama terlihat sangat jelas. Terlebih paham Wahabisme menyebar dengan cepat di Indonesia, tidak hanya memandang agama Islam sebagai agama yang kebenaranya mutlak sehingga dapat menimbulkan perselisihan agama lainnya, ajaran Wahabisme juga mengharamkan segala bentuk budaya setempat, tetapi Raqs sharqi‎ diperbolehkan.

Dengan demikian, meletakan urusan keagamaan dalam ruang privat dan semestinya adalah hal yang terbaik untuk menjaga situasi saat ini. Selain itu, menjunjung tinggi hak asasi manusia merupakan kehormatan tertinggi dalam bentuk ajaran agama manapun, namun untuk sampai kesana diperlukan kerja keras demi menyicil dikit demi sedikit tugas yang belum selesai

Penulis: Aan Sugita