Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nalar dan Mimpi Sesat Pemimpin Teroris di Indonesia

 Nalar dan Mimpi Sesat Pemimpin Teroris di Indonesia

Kepoingue.com - Gagasan kocak untuk membangun sebuah negara berbasis agama di era modern dari kelompok teroris membuat lelucon ini semakin menarik. Bahkan, tokoh pendahulu negeri ini dengan keras dan berkali-kali menolak keras agenda tersebut. Setidaknya kelompok teroris merasa jumawa dan berpikir menjadi kelompok yang paling benar, sehingga menganggap bahwa gagasan ini menjadi sebuah kebenaran.

Mimpi sebenarnya tidaklah salah, namun mimpi untuk merebut sebuah negara merdeka bukanlah contoh yang bagus untuk direalisasi. Apalagi mencoba mengganggu keamanan sebuah negara, sehingga bisa dipastikan penjara dan timah panas dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Anti Terorisme. Tidak bisa dipungkiri bahwa, banyak kasus yang menjadi pelajaran yang bisa dijadikan referensi dari yang mencoba melawan dan melakukan aksi tanpa memperdulikan arti sebuah kehidupan.

Mari sedikit bergeser dan menuju negara Irak, sebuah kelompok teroris kelas wahid dan menjadi buronan setiap negara di dunia yaitu Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) saja akhirnya bertekuk lutut di ujung timah para Militer. Pada masa jaya nya, ISIS mampu menghimpun menghimpun ratusan ribu manusia yang haus kekuasaan dan buta akan janji ekonomi dari penawaran ISIS. Penawaran lainnya yang sangat mengejutkan, tidak lebih dari hawa nafsu dunia bahkan mereka boleh memaksa dari relawan lawan jenis dengan menggunakan berbagai dalil yang tidak mendasar.

Nalar sesat seperti ini, setelah kejatuhan ISIS masih saja dibawa oleh simpatisan ISIS di Bumi Pertiwi bahkan sekelas simpatisan ikut-ikutan masih saja menggunakan dalil-dalil sesat yang dicoba memahami secara asal-asalan. Kasus bom bunuh diri di markas Kepolisian wilayah Surabaya, bagi saya adalah perbuatan yang paling keji, pemikiran mengorbankan keluarga dan anak kecil untuk memenuhi cita-cita negara impian ini adalah kebodohan yang paling hakiki. Setidaknya hewan saja masih berpikir dua kali untuk mengorbankan anak-anak dan keluarga mereka, tapi sayangnya kelompok ini sulit berpikir logis apalagi sudah dicekoki oleh khayalan mati syahid dan bertemu bidadari.

Ideologi tanpa mendasar ini seolah menjadi sel kanker stadium empat yang sulit disembuhkan, jika ada pun tetap saja kecil sekali kemungkinan untuk disembuhkan. Selain itu kelompok teroris mengklaim mereka adalah Guardian sebuah agama dan mewakilkan tuhan untuk semua urusan agama seseorang, adalah sebuah kebalikan dari cita-cita sebuah agama.

Belakangan ini, 16 Tersangka teroris ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror, bahkan ini merupakan salah satu prestasi besar bagi Densus yang mampu menggagalkan aksi yang akan dilakukan. Menurut beberapa kanal berita baik daring maupun luring, memberitakan bahwa kelompok ini sudah siap untuk melakukan amaliyah dan melakukan pelatihan semi militer di beberapa daerah. Selain itu, 16 orang yang terlibat kelompok teroris ini sudah berafiliasi dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Setidaknya ada puluhan kasus terorisme di Indonesia dalam beberapa tahun belakang yang diungkapkan oleh Densus 88. Tentunya tidak sebanding dengan wilayah Timur Tengah dan Eropa, hal ini disebabkan gencarnya pihak Badan Intelijen Negara Republik Indonesia (BIN RI), Densus 88 Anti Teror, serta beberapa pihak lainnya. Walaupun bisa dikatakan sedikit kasus, namun ancamannya membuat satu negara bisa krisis keamanan, bisa dilihat dari kasus Bom Bali dimana aksi ini menyita banyak antusias terhadap apa yang terjadi.

Mengutip dari perkataan Gus Dur, Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya. Sedangkan menurut Gus Dur berpandangan, Dari sudut agama, saya ingin mengingatkan, agar ketidaksenangan kita terhadap seseorang atau kaum, jangan sampai menyebabkan kita berlaku tidak adil dalam memutuskan sesuatu. Jika mengambil dari sudut pandang Gus Dur ini, bisa diambil benang merahnya adalah seorang haruslah menjunjung tinggi hak kemanusian dan tidak memandang rendah terhadap perbedaan.

Penulis: Aan Sugita