Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berdamai Dengan Keyakinan

Berdamai Dengan Keyakinan

Kepoingue.com - Kafir, musyrik, penyembah berhala, dongo dan lainnya sampai sekarang menjadi bahan kata sumpah serapah untuk menghakimi keyakinan seseorang tanpa memperdulikan adat serta sopan santun. Kalimat seperti ini bukan karena kurangnya nilai pendidikan seseorang, sehingga mengucapkan sedemikian rupa namun sudah mengarah pada kebencian terhadap keyakinan yang dianut.

Mengkafirkan seseorang hingga menyalahi sebuah keyakinan saat ini lazim terjadi, bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak terpelajar namun sudah digunakan oleh beberapa pemuka agama, tokoh publik, beberapa Da’I hingga lainnya. Mirisnya lagi, pengunaan kata-kata yang kasar seperti tidak mengenal umur dari yang tua hingga yang ingusan. Kata seperti ini bak santapan harian, yang mana diucapkan tanpa memikirkan bahwa perbedaan diciptakan sebagai bentuk pelajaran berharga untuk saling merangkul,berdamai.

Beberapa kasus yang membuat sangat mencolok dan mendapatkan perhatian public Indonesia hingga luar negeri adalah kasus yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok/BTP) dimana dituduh menistakan agama dengan menggunakan berbagai argumen serta pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 Tentang Penodaan Agama. Walaupun demikian perkara ini berakhir pada ditahanya Ahok selama 2 Tahun kurang lebih, berbagai kejadian lainnya sangat terlihat kontras dengan banyaknya ancaman yang dilontarkan oleh kelompok Eks Front Pembela Islam dalam menanggapi situasi ini, salah satu ancamannya adalah pembunuhan dan lainnya.

Ancaman ini tidak hanya dilontarkan oleh beberapa kelompok melainkan menyasar kepada anak-anak dari kelompok tersebut, dengan lantang mereka mengatakan bahwa harus dibunuh, digantung, dan lainnya. Kelompok seperti ini sangat sulit untuk diajak berdamai dengan situasi, apalagi memaafkan sehingga tidak jarang keyakinan yang menjadi korban mereka. Padahal tidak ada agama mengajarkan untuk menghakimi seseorang ataupun lainnya, justeru terbanding sebaliknya keyakinan melindungi hak-hak orang lain.

Seperti hal kasus yang terjadi di Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat, dimana Masjid Ahmadiyah dirusak hingga dibakar dengan alasan berbeda dengan apa yang diantut mereka dan dianggap sebagai perilaku musyrik dan sesat. Selain perbedaan sudut pandang dalam beragama, beberapa perusakan dengan lantang mengatasnamakan sebagai Aliansi Umat Islam, hal ini menjadi pelajaran bagi semua lini pemerintahan. Jamaah Ahmadiyah, dan beberapa kelompok keagamaan lainnya menjadi langganan penganiayaan serta kerusakan berbagai fasilitas ibadah, serta kerugian lainnya. Hal ini menunjukan bagaimana lemahnya negara dalam melindungi warganya, pengulangan kasus menjadi bukti kuat untuk hal ini, baik yang dilakukan secara berkelompok atau sendiri.

Kebhinekaan dalam bermasyarakat saat ini belumlah seratus persen terlaksana, masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh negara, terlebih memaknai agama sebagai keyakinan yang membawa perdamaian. Saya sendiri melihat isu beragama di Indonesia setidaknya merupakan isu yang paling sensitif, baik penggunaan ataupun lainnya. Di sisi lainnya, walaupun sangat sensitif isu ini menjadikan beberapa posisi baik ataupun posisi buruk, setidaknya bagi mereka yang dapat menunggangi isu ini akan mendapatkan keuntungan yang fantastis seperti effort yang tinggi dan melejitnya nama seseorang.

Pekerjaan rumah lainnya bagaimana pemerintah memberikan rasa aman bagi pemeluk keyakinan lainnya, walaupun sulit untuk memberikan rasa aman seluruhnya setidaknya pemerintah membantu bagaimana mereka bisa beribadah menurut keyakinan masing-masing. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi dewasa dalam siklus agama yang ada, selain itu ‘Agama sebagai perdamaian’ akan menjadi nyata.

 

Penulis: Aan Sugita