Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Taliban Menang di Medan Perang, Tapi Gagal Urus Negara

Taliban Menang di Medan Perang, Tapi Gagal Urus Negara

Kepoingue.com – Taliban telah memenangkan perperangan mereka dan berhasil merebut Afghanistan dari kekuasan Presiden Ashraf Ghani, hanya saja Taliban tidak memenangkan system pemerintahan Ashraf Ghani dan kukuh merubah haluan negara menjadi sitem kekhilafahan modern. Melihat kekacauan yang terjadi di Afghanistan saat, system kekhilafahan tidaklah mampu membendung bencana kekhawatiran dan keamanan bagi masyarakatnya.

Semenjak didengungkan kemenangan oleh berbagai media massa, sipat jumawa Taliban menjadi-jadi terlihat, bahwa tidak sedikit warga Afghanistan berbondong-bondong berupaya mencari perlindungan dari negara lain. Dalam decade terakhir, perpindahan penduduk dengan jumlah yang besar dikeranakan keamanan serta kebebasan Afghanistan menempati urutan 10 besar dan sejajar dengan kelompok Rohingya, Palestina, Suriah, dan beberapa kelompok lainnya.

Pengelolaan dan memberikan kepastian atas keberlangsungan hidup bagi penduduk Afghanistan terbilang sangat buruk terlebih dikelola oleh Taliban, yang mana sebelumya hanya berkutat dalam medan perang serta arteleri. Pengelolaan negara yang baik dan memberikan kebebasan terhadap semua orang tampak sekali sangat sulit dijalani oleh Taliban.

Walaupun Taliban merupakan organisasi penentang terbesar yang menentang pemerintah, tetap saja tidak bisa mengelola Afghanistan secara menyeluruh. Bagaimana tidak, kemenangan Taliban atas pemerintahan Ashraf Gani membuat tingkat keamanan minus beberapa persen, terlebih budaya penindasan serta busana sangat terdampak olehnya.

Diketahui, bahwa Taliban berambisi mengikuti system pemerintahan Islamic Republik of Iran (Iran) yang diumumkan hari Jumaat 03 September 2021 setelah pelaksanaan Shalat Jumaat. Laporan terakhir bahwa Hidayatullah Akhundzada menjadi pemimpin tertinggi negara baru nya Afghanistan, dan dibawah langsung para imam tertinggi Taliban. Saat ini masih banyak yang bertanya kenapa bisa organisasi Taliban bisa berdigdaya melawan pemerintahan resmi, salah satunya adalah meningkatnya populasi pendukung Taliban sehingga mampu menyingkirkan Presiden Burhanuddin Rabbani dan Menteri Pertahanan Ahmed Shah Masood di Tahun 1996.

Konsekuensi menangnya Taliban di Afghanistan nampaknya cukup menyita perhatian, tidak hanya diluar negeri namun juga dalam negeri. Setidaknya, kemenangan ini merupakan angin segar bagi kelompok ekstrimisme dan teroris, baik secara kaidah beraffiliasi langsung ataupun merupakan mantan pejuang yang gagal berangkat era Islamic State Iraq and Syria (ISIS). Bertepatan di bulan ulang tahun tanah Ibu Pertiwi, Densus 88 Anti Teror menangkap 35 orang dan berkembang menjadi 51 orang yang siap mejalani amaliyah bom bunuh diri ke beberapa titik wilayah di Indonesia.

Selain menangkap, ternyata pemerintah sudah mulai peka terhadap perekembangan politik di Afghanistan, sehingga memutuskan untuk menjemput orang-orang Indonesia disana dengan didampingi oleh prajurit khusus serta pesawat milik Militer. Dimana bisa kita artikan bahwa, Afghanistan tidaklah layak untuk dibilang aman lagi bagi kehidupan disana, namun  pemerintah juga harus memperhatikan setidaknya tidak sedikit masyarakat Indonesia yang berpahaman keras serta bercampur radikalisme tidak sedikit alumni dari Afghanistan.

Perpindahan kekuasan antara pemerintah resmi Afghanistan kepada Taliban merupakan benalu bagi sebagian penduduk di beberapa negara, termasuk Indonesia. Pasalnya Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah tangga (PR) dalam memutus mata rantai kekerasan terhadap kemanusian yang dilakukan oleh individu dan orang-orang yang terafiliasi langsung dengan kelompok teroris.


Penulis: Aan Sugita