Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Taliban dan Rangsangan Perang Saudara

Taliban dan Rangsangan Perang Saudara

Kepoingue.com - Setelah kemenangan Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan, keberhasilan Taliban atas cita-cita mereka selama ini membuat banyak perhatian dunia tertuju pada sistem pemerintahannya kedepan dan bagaimana nasib rakyatnya. Walaupun Taliban mendapatkan dukungan beberapa negara, jika diibaratkan dengan pepatah Melayu, Taliban hanya seperti jagung muda yang belum cukup umur untuk mengurus negara dan lainnya.

Terlihat sangat nyata bahwa Taliban tidak memiliki ideologi untuk membangun sebuah negara serta membuat kebijakan. Walaupun Taliban mengklaim bahwa mereka menerapkan ideologi Islam dan mengikuti tatacara sistem Pemerintahan Iran yang sebelumnya berdasarkan buah piker Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini atau yang lebih dikenal dengan nama Ayatollah Khomeini.

Taliban benar-benar masih hanya berputar dalam Black Hollo, dimana mereka hanya memenangkan pertempuran secara harfiah namun gagal dalam membenahi struktur serta sistem yang ada. Bagaimana tidak, semenjak revolusi Iran Ayatollah Khomeini merupakan orang yang tidak segan merangkul lawan maupun kawan. Khomeini sendiri sangat teguh berpegangan pada prinsip Syiahnya, terbalik jauh dengan apa yang diperlihatkan langsung oleh Taliban.

Selain tantangan membenahi sistem pemerintah yang carut-marut, Taliban juga mendapatkan tantangan untuk mempertahankan kemenangannya selama ini.  Selain ancaman dari luar, ancaman dari dalam juga sangat menakutkan terlebih ada beberapa kelompok seperti Islamic State Iraq and Syria (ISIS), Al-Qaeda, dan milisi kesukuan yang ada disana. Namun, yang paling menyakitkan adalah disaat masyarakat Afghanistan menginginkan kebebasan dan kemerdekaan mereka sepenuhnya seperti yang dicontohkan oleh warga Tunisia yang merevolusi secara membabi buta dan dikenal sebagai Arab Spring.

Kemenangan Taliban ini pula harus diwaspadai oleh negara-negara ASEAN serta benua lainnya, setidaknya Taliban merupakan kelompok yang secara sejarah terafiliasi baik dengan ISIS, maupun Al-Qaeda. Pemikiran yang keras dari Osama Bin Laden serta Ideologi dari Abu Bakar Al-Baghdadi menjadi satu kesatuan dalam bingkai sejarah Taliban serta beberapa veteran mujahidin Afghanistan. Terlebih ASEAN, selain secara geografis Afghanistan merupakan tumbuh suburnya kelompok teroris serta simpatisan lainnya seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dibawah pimpinan dewan syuro Abu Bakar Baasyir, sedangkan JI bawah pimpinan Aman Abdurrahman yang secara terang-terangan berafiliasi dengan dua organisasi tersebut yang eksis hingga sekarang.

Dengan afiliasi yang masih terjalin, tentu saja Indonesia harus mengencangkan sabuk pengamanannya agar tidak kedodoran serta kecolongan oleh simpatisan Taliban. Jika dilihat dari beberapa kasus teroris di Indonesia, Afghanistan sangat berkesan bagi kelompok ini sehingga tidak sedikit alumni teroris yang berasal dari Afghanistan serta pernah merasakan pelatihan di negara tersebut.

Menurut saya, cepat atau lambat Afghanistan akan mengalami revolusi kembali dikarenakan oleh ideologi serta kebebasan dalam banyak hal yang sangat sulit untuk diterapkan di masa ini. Sebagai contoh kecil saja Taliban sangat dominan mengatur bagaimana tata cara berbusana, music, pekerjaan perempuan, dan Pendidikan bagi perempuan. Kesenjangan ini setidaknya akan memantik perlawanan dari berbagai kubu yang mengenal demokrasi dan menjunjung tinggi akan peradaban yang damai.

Terlebih, organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk keras perilaku kekerasan yang ditimbulkan oleh Militer Taliban dengan mengacungkan senapan kepada warga sipil serta tidak segan-segan untuk menarik pelatuknya. Kebiadaban yang ditampilkan oleh Taliban bukanlah perilaku yang manusiawi lagi, seperti yang dicita-citakan oleh para pemimpin terlebih dahulu dengan menjunjung tinggi hak-hak manusia.

Pada akhirnya, Taliban tetap saja organisasi yang penuh dengan perilaku kekerasan walaupun mereka mengklaim menjalani amanah agama dan menjalan perintah tuhan yang maha esa. Perilaku seperti ini, hanya membuat Taliban kembali terdorong ke dalam kecamuk perang yang tak berkesudahan, serta akan banyak warga yang tak berdosa menjadi sasaran peluru dari medan perang esoknya. 


Penulis: Aan Sugita