Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sifat Zuhud Tangkal Kebencian di Bulan Ramadhan

Sipat Zuhud Tangkal Kebencian di Bulan Ramadhan

Kepoingue.com - Dalam konteks berbangsa dan bernegara, hoax merupakan pangkal dari berbagai tindakan anarkis dan tindak pidana. Selain itu, hoax merupakan benih dari berbagai jenis kebencian baik secara individu maupun kelompok , dimana akan berujung pada aksi intoleransi, rasisme, hingga pada puncaknya jatuh pada  tindakan terorisme.

Jika diibaratkan kebencian, rasisme, intoleransi, dan hoak bagaikan parasit di tubuh manusia. Selain sulit dibasmi, memerlukan berbagai metode dan pendekatan agar bisa mempersempit ruang gerak, salah satunya dengan demokrasi dan juga asketisme.  Fukuyama melihat demokrasi merupakan keharusan dianut oleh sebuah negera-negara di dunia, ia mengatakan : The end point of mankind’s ideological evolution and thr universalization of western liberal democrscy as the final from of human government.

Namun, sayangnya tidak semua yang berkaitan dengan sifat utama demokrasi dapat diterima dengan baik, entah itu individual maupun secara sistem negara. Demokrasi yang kita kenal saat ini, merupakan demokrasi yang hanya berlandasan kemerdekaan perbudakan atupun perang, namun dalam segi berpendapat maupun berhak menerima informasi yang baik dan kredibel masih jauh dari semua harapan.

Variabel-variabel masalah ini lah harus menjadi penting untuk diperhatikan, dimana semua negara mengalami hoak dan kebencian menjadi satu sehingga menimbulkan berbagai permasalahan yang genting , terburuknya bisa menghancurkan sebuah negara. Namun, dengan menggunak askestime dapat memberikan efek yang lebih baik, terlebih dalam kondisi seperti sekarang dimana ramadhan menjadi bulan untuk kembali membina diri, serta memperbanyak amal kebaikan.

Sebenarnya askestime  sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu umat Islam, hingga Nabi Muhammad SAW juga pernah melakukan askestime.  Asketisme dalam Islam dipersepsikan sebagai zuhud yaitu alienasi diri dari masyarakat dan mengasingkan jiwanya untuk lebih fokus melakukan ibadah mahdhah (murni). Tidaklah logis asketisme Islam identik dengan faqir ataupun ju„i ataupun menjauhi diri dari kebersamaan.

Konsentrasi asketisme berusaha menciptakan kebaikan atau keutamaan kekuatan lahiriah, emosi dan suasana hati (mood). Dengan demikian pengenalan asketisme Islam dengan zuhud masuk dalam ironcage (tepenjarai) masa lalu (historis), sedangkan asketisme Islam yang kontemporer mesti masuk dalam ironcage modernitas. Asketisme Islam dilatar belakang oleh ethos dan etik yang bersifat sosiosentris bukan egosentris hanya mendambakan kesempurnaan dan kesalehan diri. Maka corak asketisme Islam tidak bersifat zuhud stagnan akan tetapi zuhud moderat sebagai sikap mengutamakan fadhail serta meraih semua yang halal dengan melakukan berbagai kontribusi terhadap sosial salvation. Dengan demikian zuhud moderat sama dengan zuhud produktif dan partisipatif.

Selain itu, Asketisme merupakan motivasi pembentuk perubahan sikap dari ignorence (kesalahan) menuju salvation (keselamatan). Kehidupan manusia selalu menimbulkan titik jenuh akibat pencarian euphoria kehidupan berakhir pada titik krusial yaitu terjatuh dalam dekadensi moral, maksiat, korupsi, prostitusi, gaya hidup bebas, kebencian, berita bohong, dan lain lain. Semua tindakan manusia terpatron dalam siklus kehidupan antara baik dan buruk yang saling bertabrakan karena kecenderungan manusia lebih dominan disibukkan oleh hal yang menyenangkan sehingga luput dari perbaikan diri secara kontinuitas antara pilihan melakukan good attitude (amal saleh) atau business (kesibukan).

Asketisme adalah ajaran-ajaran yang menganjurkan pada umatnya untuk menanamakann nilai-nilai agama dan kepercayaan kepada Tuhan, dengan jalan melakukan latihan-latihan dan praktek-praktek rohaniah dengan cara mengendali kan tubuh dan jiwa Pada tradisi Islam, bahasan asketik bersumber pada konsep zuhud yang lahir dari tradisi tasawuf. Dalam perjalanan spiritual, zuhud merupakan langkah awal bagi orang-orang yang berjuang untuk mendapatkan kesempurnaan dan bermakrifat kepada Allah Swt.

Dalam perspektif historitas Islam, praktik askestik dalam Islam pada hakikatnya sudah ada sejak Rasululah Saw melakukan aktivitas bertahannust di gua Hira, ketika menerima wahyu pertama. Hal ini merupakan suatu bukti bahwa praktik asketisme dalam Islam sebagai langkah awal lahirnya kehidupan zuhud. Sedangkan Zuhud itu berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah mereka miliki dan tidak merasa sedih karena kehilangan kemewahan dari dirinya.

Seperti yang diungkapkan, bahwa dalam sehari saja hoak bisa berkembang sangat cepat terlebih dengan keterbukaan kebebasan bersosial media (internet) sehingga sulit membedakan mana berita yang terverifikasi atau tidaknya. Singkatnya, dengan mengunakan sifat asketisme berharap dapat membendung serta membentengi dari hoak, apalagi sekarang dalam kondisi ramadhan.