Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puasa Ramadhan Merupakan Bentuk Rasa Syukur

Puasa Ramadhan Merupakan Bentuk Rasa Syukur

Kepoingue.com - Tujuan utama ibadah pada bulan ramadham adalah untuk meningkat rasa syukur sebagai hambanya, atas pemberian. Selain, menjalankan rutinitas dalam agama puasa merupakan bentuk takwa bagi muslim untuk bekal di hari akhir. Sesuai dengan Al-quran surah al-Baqarah ayat 183. Artinya, ''Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Ramadhan juga merupakan anugerah Allah SWT sebagai kasih sayang kepada hambanya, dimana Allah tidak menyia-nyiakan keletihan hambanya yang sedang berpuasa serta melakukan kegiatan lainnya tanpa meninggal kan esensi ketakwaan. Para ulama sangat menganjurkan untuk memperbanyak amal saleh di bulan ramadhan, dengan harapan amal serta lainnya akan akan dicatat oleh malaikat sebagai amal kebaikan.

Menarik sejarah ke belakang, bulan ramadhan yang kita kenal merupakan berasal dari kata al-ramdhu yang mana artinya yaitu membakar sesuatu. Menurut riwayat Al-Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kasy syaf, dahulu ketika orang-orang memindahkan nama-nama bulan kedalam bahasa arab, dikeranakan dahulunya nama-nama bulan sebelumnya hanya berdasarkan bahasa bangsa Babilonia dimana bangsa Babilonia terlebih dahulu mengetahui cara menghitung bulan dalam setiap tahun. Pada akhirnya dimana  pada waktu pengalihan nama-nama bulan itu, Ramadhan jatuh pada musim panas. Hal ini terdapat bukti sejarah dimana penanggalan dalam tahun Islam menggunakan atau mengikuti peredaran matahari bukan peredaran bulan.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alai wa sallam bersabda, "Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."

Ketika semua amal untuk Allah dan Dia yang akan membalasnya, maka para ulama berbeda pendapat dalam firman-Nya, "Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya." Mengapa puasa dikhususkan? Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah telah menyebutkan sepuluh alasan dari perkataan para ulama yang menjelaskan makna hadis dan sebab pengkhususan puasa dengan keutamaan ini.

Bahwa puasa tidak terkena riya sebagaimana (amalan) lainnya terkena riya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, "Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada dirinya. Oleh karena itu dikatakan dalam hadis, ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya) berbeda dengan puasa.

Maksud dari ungkapan kalimat ‘Aku yang akan membalasnya’, bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, ‘Artinya bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipat gandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali sampai sekehendak Allah kecuali puasa. Maka Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallalm bersabda

( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )

Artinya: Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya." Yakni Aku akan memberikan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Sedangkan makna ungkapan dari ‘Puasa untuk-Ku’, dimaksudkan bahwa termasuk dia ibadah yang paling Aku cintai dan paling mulia di sisi-Ku. Ibnu Abdul Bar berkata, "Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, 2220 dari Abu Umamah rahdiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang menyamainya." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Nasai)

Sedangkan penyandaran adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Seperti diungkapkan ‘Baitullah (rumah Allah)’ meskipun semua rumah milik Allah. Az-Zain bin Munayyir berkata, "Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini, tidak dapat difahami melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan."