Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belain Rizieq Bukan Mati Syahid Loh, Tapi Mati Konyol

Belain Rizieq Bukan Mati Syahid Loh, Tapi Mati Konoy

Kepoingue.com- Penangkapan tersangka tindak pidana terorisme di dua tempat berbeda, yakni Bekasi dan Tangerang Selatan mengungkapkan fakta terbaru. Selain akan melakukan aksi teror di Sarana Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan beberapa toko milik orang Tionghoa di wilayah DKI Jakarta. Kelompok teroris yang berisikan anggota FPI tersebut memiliki misi untuk membebaskan Rizieq dan ingin mati syahid.

Saat ini, doktrin mati syahid menjadi bahan untuk melakukan berbagai tindakan kekerasan kemanusian. Miris jika digambarkan secara umum, dimana mati syahid tidak lagi pada poros perjuangan membela yang benar atau melakukan tindakan mulia seperti membela tanah air maupun lainnya. Konotasi mati syahid ditengah-tengah masyarakat modern saat ini, juah seperti apa yang disarankan oleh agama Islam.

Jika melihat lebih jauh lagi, sebenarnya bangsa Indonesia telah menghadapi banyak problem besar, termasuk masalah intelektual dan religius. Isu-isu baru telah bermunculan baik dari kaum fundamentalis di satu pihak, dan kaum liberal di pihak lain, yang tentu saja perlu dicari solusi yang solid dan rasional. Namun permasalahan tersebut haruslah diselesaikan dengan menggunakan jalur yang tepat dalam koridor aqidah yang benar sehingga kebesaran bangsa kita, serta nilai-nilai agama yang suci dan luhur yang diembannya tidak ternoda. Salah satu isu yang memerlukan perhatian seksama bagi masyarakat dan pemerintah adalah tentang doktrin jihad dan doktrin mati syahid.

Doktrin jihad dan mati syahid, sebenarnya sudah ada sejak kebebasan berpendapat di Indonesia walaupun di dalam Al-Quraan sendiri sudah jauh lebih dulu di perkenalkan dizaman Rosullah SAW, namun tetap pada konotasi melindungi negeri dan agama. Sedangkan doktrin jihad, yang dibawa oleh kelompok fundamentalis seperti pentolan Front Pembela Islam (FPI) yang melabeli dirinya sebagai imam besar, jauh dari apa yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan Al-Quran. Kekerasan dan aksi teror serta memaksakan kehendak dengan mengatasnamakan agama Islam menjadi metode indoktrinasi oleh Muhammad Rizieq Shihab.

Dari sekian banyak ulama besar di Indonesia, Rizieq merupakan orang yang paling banyak memberikan fatwa jihad kepada pengikutnya. Tentunya hal ini berdampak kepada orang-orang yang salah mengartikan makna jihad, sehingga apa yang keluar dari mulut Rizieq merupakan kebenaran mutlak dan harus dikerjakan. Mengutip artikel dari laman hops Id dengan judul ‘HRS Minta ibu-ibu Jangan Halangi Anaknya Bela Habib: Biar Mati Syahid’ membuat saya sedikit bergidik ngeri atas pernyataan ini, selain berkonotasi kekerasan pernyataan ini juga memberikan peluang bagi sel-sel tidur kelompok teroris untuk melakukan aksi teror, terlebih FPI merupakan ormas yang acap kali menjadi tersangka kasus terorisme.  

Jika melihat rentetan kasus terorisme di Indonesia, ormas Front Pembela Islam (FPI) memang acap kali menjadi langganan tersangka pelaku tindak pidana terorisme. Wajar apabila ormas ini disebut sebagai kelompok ISIS dan Al-Qaeda versinya Indonesia, tentu ini merujuk pada beberapa kasus diatas. Jika kita melihat sejarah panjang ormas yang berbasis agama Islam di Indonesia, ada dua nama besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tidak pernah ada anggota ataupun lainnya menjadi tersangka tindak pidana teroris, berbeda jika ormas tersebut seperti FPI.

Bagi saya, mati syahid yang diimpikan simpatisan Rizieq merupakan pemikiran yang paling konyol dimana tidak ada dalil yang mengatakan bahwa mereka syahid, terlebih labeling mati syahid merupakan rahasia tuhan yang maha esa. Sedangkan jika syahid diartikan di era saat ini, seperti yang dijaminkan dalam Al-Qauran memiliki beberapa kategori seperti meninggal dalam keadaan melahirkan, meninggal dunia karena membela tanah air dan beberapa lainnya.

Tentunya, hal ini bisa kita rujukan pada sejarah dimana dan masa apa kata ‘syahid’ pertama digunakan. Dalam banyak literasi islam, kata syahid digunakan oleh Nabi Muhammad untuk mengajak pengikutnya menjaga Islam dan tanah airnya, namun tidak pernah memaksa kan kehendak maupun memaksa kan agama Islam menjadi agama universal saat itu.

Singkatnya, pembelaan simpatisan FPI terhadap Rizieq merupakan kewajaran normal dalam negara demokrasi. Namun, yang perlu ditekankan memaknai jihad dengan mengorbankan diri serta menghilangkan nyawa merupakan kekonyolan yang paling luar biasa, walaupun dengan embel-embel mati syahid.