Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Zuhairi Misrawi Lanjutkan Diplomasi Bung Karno di Arab Saudi

Zuhairi Misrawi Lanjutkan Diplomasi Bung Karno di Arab Saudi

Kepoingue.com - Hubungan antara Arab Saudi dan Indonesia sudah terjalin erat sejak masa Bung Karno. Bahkan Arab Saudi memiliki tempat tersendiri di hati Bung Karno dan Indonesia. Sebab, Arab Saudi merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan kita bersama negara-negara lain di Timur Tengah. Maka dari itu, tidak mengherankan jika sampai hari ini jalinan di antara keduanya masih harmoni.

Dahulu, Bung Karno dipandang sebagai simbol keperkasaan dan kebesaran Indonesia. Tentu, hal ini terjadi karena kepiawaiannya berdiplomasi. Hari ini, kita tidak lagi berada di fase itu, Indonesia tidak ubahnya seperti negara-negara lain, yang hanya sebatas negara yang memiliki hubungan diplomasi biasa. Karena itu, dalam mengembalikan kejayaan masa lalu, amat perlu menghadirkan kembali sosok Bung Karno dalam diplomasi bilateral dengan negara-negara Timur-Tengah.

Kabar ditunjuknya Zuhairi Misrawi oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi merupakan kabar yang mengejutkan, sekaligus membahagiakan, khususnya bagi saya. Zuhairi Misrawi yang akrab dipanggil Gus Mis merupakan sosok bersahaja yang pernah saya temui.

Bagi saya, Gus Mis tidak hanya sekadar seorang guru, tetapi juga sukses menjadi representasi dari istilah “digugu dan ditiru”. Membahagiakan saat mendapatkan kabar Gus Mis sebagai Kepala Perwakilan Indonesia untuk Arab Saudi. Sebab, dalam diri Gus Mis saya melihat sosok Bung Karno. Setidaknya, Gus Mis dapat melanjutkan estafet diplomasi ala Bung Karno ke depan.

Kedekatan Bung Karno dengan raja Saud bin Abdul Aziz pada periode awal kemerdekaan membawa berkah tersendiri bagi kedua negara. Dari Arab Saudi, Bung Karno belajar tentang keberanian memerdekaan diri dari penjajah. Dikisahkan dalam buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno (2017) karya Sigit Aris Prasetyo, Bung Karno mengatakan dalam rapat BPUPKI, “saya terinspirasi dengan keberanian Abdul Aziz al-Saud yang kala itu bergegas memerdekakan bangsanya, meskipun bangsanya belum siap sekalipun”.

Kekaguman Bung Karno ini pun, berbalas dengan dukungan penuh Arab Saudi dalam mengakui kemerdekaan Indonesia. Bahkan, dikisahkan dalam buku yang sama, Bung Karno merupakan sosok yang dikagumi, baik oleh masyarakat maupun pemimpin Arab Saudi. Sebab, Bung Karno dianggap sebagai tokoh yang berjasa dalam menghapuskan kolonialisme di Benua Asia dan Afrika. Melihat bagaimana Bung Karno menjalin hubungan dan memperjuangkan kemerdekaan negara-negara terjajah, khususnya Timur Tengah patut diapresiasi. Dan tentu kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga memiliki pemimpin sepertinya.

Dalam hal diplomasi dan perjuangan kemanusiaan Bung Karno demikian, setidaknya saya melihat representasi itu dalam diri Gus Mis. Sejauh saya mengenal Gus Mis, ia sangat Sukarnois. Ia pun merupakan salah satu kader terbaik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Di samping itu, dalam satu dekade terakhir Gus Mis getol menyuarakan kebebasan negara-negara kawasan yang dirundung konflik berkepanjangan, baik dalam tulisan-tulisannya maupun forum-forum nasional dan internasional. Gus Mis mengutuk kekerasan kemanusiaan di kawasan. Karena itu, tidak salah jika pilihan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dibebankan kepadanya.

Setidaknya, baik dari keilmuan, relasi, dan sisi historis Gus Mis memiliki kedekatan emosional dengan Timur Tengah. Gus Mis tercatat sebagai lulusan dari Universitas al-Azhar Cairo. Salah satu kampus tertua, dan telah sukses melahirkan tokoh-tokoh di penjuru dunia. Ia juga merupakan peneliti aktif Timur Tengah dan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).

Harapannya, tentu, dengan dijadikannya Gus Mis sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, kita dapat berperan aktif dalam melerai konflik di kawasan. Sebab, diakui atau tidak Arab Saudi memiliki peran penting di kawasan. Harapan besarnya, tentu dapat mengembalikan citra Indonesia yang baik, seperti pada masa Bung Karno. Kita dapat menjadi jembatan kemerdekaan negara-negara kawasan lewat berdiplomasi bersama Arab Saudi. Pun, tentunya, kita dapat kembali memiliki tempat istimewa di Arab Saudi, sehingga diplomasi ala Bung Karno terhadap Arab Saudi akan terus berlanjut hingga nanti.

Penulis: Fajar Insani