Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pilpres 2024 dan Nasib Partai Demokrat

Pilpres 2024 dan Nasib Partai Demokrat

Kepoingue.com - Panasnya kontestasi Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia untuk Tahun 2024 (Pilpres 2024), baru saja masuk dalam tahap penyesuaian kekuatan. Namun, nama dan partai apa belumlah benar-benar membeberkan kepublik, ditambah dengan nasib partai demokrat yang kian tidak menentu. 

Wacana Persiden Tiga Priode baru saja digulirkan kepublik oleh politikus senior, Amien Rais dengan mengatakan ada dari kekuatan istana menghendaki bahwa massa tugas Presiden diamandemen dan dijadikan tiga Priode. Sayangnya, wacana tersebut ditolak mentah-mentah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan teguh meletakan pada asas yang berlaku, yaitu tetap pada dua priode sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemilu. 

Tentunya akan ditolak, mengingat bahwa akan menimbulkan ketidak percayaan masyarakat pada pemerintahannya. Terlebih jika menggunakan wacana Persiden tiga Priode akan menimbulkan kekuatan penolakan dari masyarakat, yang mana masyarakat engan jika harus kembali kepada era Persiden Suharto. Wacana tiga priode sebenarnya tidak sedikit diajukan oleh politisi, namun pada akhirnya tetap menimbulkan kebuntuan. Amien Rais yang memang terkenal lompatan politiknya, tentunya sangat mudah memainkan isu ini, apalagi ia baru saja mendirikan Partai Ummat.

Lalu apa kaitan dengan Pilpres 2024? Tentunya jika isu ini dimainkan, akan lebih mudah menggerek citra para politisi dengan cara menjatuhkan kepercayaan masyarakat kepada Persiden Jokowi. Amien Rais yang notabene sebagai politisi bergelar sengkuni, akan mendapatkan kepercayaan terlebih untuk melambungkan nama dan popularitas Partai Ummat. Sedangkan kita tahu bahwa, tahun politik 2024 merupakan persaingan kaum muda seperti Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil. Sandiaga Uno, Erik Tohir, hingga Anies Baswedan. 

Jauh sebelum sampai tahun tersebut, permasalahan politik di Indonesia sudah cukup rumit ditambah dengan KLB Partai Demokrat dan nasib Partai Demokrat yang belum menentu, apakah sanggup menjadi pemain atau penonton seperti pemilu kemarin. Terlebih isu sektarian akan berhembus kecang ditahun 2024, sebagai pengawal jalannya Pilpres 2024.