Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bupati Lebak Kirim Santet Kepada Moeldoko, Lebay

Bupati Lebak Kirim Santet Kepada Moeldoko, Lebay


Kepoingue.com - Buntut dari KLB Partai Demokrat yang tak terbendung, akhirnya meruncing hingga kemana-mana. Kedua kubu sama-sama membela Ketua Umumnya, termasuk pernyataan Bupati Banten yang akan mengirimi santet untuk Moeldoko. 

Ungkapan Ketua DPD Partai Demokrat Banten Iti Octavia Jayabaya yang juga bupati Lebak, siap mengirim santet kepada Moeldoko karena terlibat dalam kongres di Deli Serdang, Sumatera Utara termasuk tidak patut diucapkan oleh seorang pejabat, lebih-lebih pernyataan tersebut termasuk cari sensasi atau lebay.

Herman mengatakan hal tersebut merupakan bentuk ekspresi disampaikan para pimpinan Demokrat daerah, lantaran merasa geram dengan tingkah laku Moeldoko yang lakukan kudeta posisi ketua umum partai Demokrat.

"Dan gangguan ini tentu juga mengancam terhadap kedaulatan partai karena ada pihak eksternal yang tidak bisa dipisahkan itu dengan jabatannya yaitu Moeldoko yang saya kira ini sangat mengganggu kerja-kerja partai untuk rakyat," tandasnya.

Awalnya ia menyatakan kesetiaannya kepada AHY, dan menolak hasil KLB Deli Serdang, yang  ketua umumnya merupakan orang internal partai yaitu Moeldoko.

"Saya Iti Octavia Jayabaya, Ketua DPD Demokrat Banten beserta seluruh Ketua DPC dan anggota DPRD di mana saya diberikan amanah dan pemilik suara yang sah sebagai Ketua DPD, kami menolak KLB ilegal," ujarnya dalam kegiatan Commander's Call di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat.

"Banten tidak gentar. Kami tetap setia pada Ketum kami yang ganteng. Kalau pun kami harus turun berdemo, kami siap. Santet Banten akan dikirim untuk KSP Moeldoko," lanjut Iti dengan nada sedikit meyakinkan.

Tentunya, untuk seorang Bupati ucapan tersebut sangat tidak baik terlebih Partai Demokrat menjadi perhatian bagi masyarakat saat ini. Selain isu kudeta, isu kekuasaan keluarga (dinasti), hingga memiliki anggota tukang tenun. Tapi, terlepas dari ancaman tersebut betulan atau cuma main-main, yang menjadi pokok permasalahan adalah tidak semestinya seorang pejabat ngomong gitu. Bupati kok main ancam? Pejabat kok bicara santet? dan terkesan lebay