Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bela Islam dengan Pengetahuan dan Kebaikan

Bela Islam dengan Pengetahuan dan Kebaikan

Kepoingue.com - Sebagian Muslim terlalu sering menanggapi kebencian dengan lebih banyak kebencian, dan terjerumus dalam siklus balas dendam. Apa yang dianggap sebagai pembelaan terhadap sekian aspek agama, berulang kali berjalan sebagai ajang pamer krisis spiritualitas. Belum lama ini misalnya, kita menyaksikan semangat ‘Bela Habib’ menginspirasi sekelompok Muslim berbuat onar di persidangan. Pernah juga terjadi aksi ‘Bela Nabi’ yang berujung pada penghilangan nyawa orang lain. 

Umat Islam memang percaya pada tugas kolektif untuk melakukan ‘Bela Islam’. Namun, sangat penting memperhatikan bagaimana cara kita membela. Sejak awal diturunkannya, Islam memang sudah sering mendapat serangan dari berbagai arah. Hasil penelusuran sederhana saya tentang topik ini menunjukkan bahwa, membela aspek Islam dari serangan ideologis maupun kebencian yang mungkin terjadi, harus didasari dengan pengetahuan yang mencerahkan dan amal kebaikan.

Menghina, mencaci, dan bertindak anarkis hanya membuat umat Islam terlihat lebih buruk. Perbuatan semacam ini pun sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Kita selalu diajarkan agar tidak membalas kebencian dengan lebih banyak kebencian, kebohongan dengan lebih banyak kebohongan. 

Di dalam al-Quran, jelas sekali dikatakan, tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu, akan seperti teman yang setia (QS. Fussilat: 34). Setiap perlawanan atau pembelaan kita sama sekali bukan untuk balas dendam, melainkan merubah permusuhan menjadi persahabatan, kebencian menjadi kecintaan. Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW, tidak ada yang dapat membantah fakta bahwa kecerdasan dan sikap baik Nabi SAW banyak melunakkan hati musuh-musuhnya. Abu Sufyan, salah seorang musuh besar dakwah Rasulullah SAW yang insyaf dan menjadi sahabat Nabi. Tidak lain karena kejahatannya tidak pernah dibalas kecuali dengan kebajikan dan rasa belas kasih oleh Nabi SAW.

Membela Islam atau hal-hal yang berkaitan dengannya, sebisa mungkin dilakukan dengan niat membimbing dan memberi manfaat bagi lawan. Niat baik adalah kunci untuk memenangkan hati dan pikiran umat Islam, demi menghindari nafsu balas dendam dan keinginan untuk menyakiti orang lain. Setiap langkah membela dalam Islam, tujuannya bukan untuk menghancurkan lawan, melainkan untuk melihatnya sampai pada kebenaran dan menjadi saudara kita. 

Membela Islam dari berbagai kesalahpahaman ataupun serangan, memerlukan pengetahuan, kelembutan, dan kesabaran. Tiga kualitas kebaikan ini diterangkan Ibnu Taymiyah dalam kitabnya Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyi ‘Anil Munkar (20-21). Bagi ulama salaf yang terkenal keras dalam membela kemurnian ajaran Islam inipun, kita tidak boleh memerintahkan yang baik atau melarang kejahatan, tanpa memahami betul apa yang kita perintahkan dan larang. Apalagi tanpa kelembutan ketika memerintahkan atau melarang, dan tanpa bersabar setelah melakukannya. Jadi rumusnya, ‘pengetahuan’ harus ada sebelum menyuruh dan melarang, ‘kelembutan’ selama tindakan itu berlangsung, dan ‘kesabaran’ setelahnya. 

Pada kenyataannya, akhlak baik adalah salah satu aspek terpenting dalam menanggapi serangan kebencian atau membela suatu pihak. Kita tidak hanya harus paham masalah apa yang sedang dihadapi dan argumentasi apa yang akan kita kemukakan, tetapi juga harus berperilaku seperti Muslim sejati yang tulus dan sabar. Perilaku kita sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata kita, inilah pentingnya membela Islam dengan pengetahuan, kelembutan, dan kesabaran. 

Hanya mereka yang memiliki pengetahuan dan akhlak baik yang dapat secara efektif menahan serangan terhadap Islam dan membelanya. Inilah yang sebenarnya dilakukan oleh banyak ulama tanah air kita. Hingga saat ini, masih banyak kiai kita yang dengan tenang berdakwah menyampaikan ajaran Islam, mendidik dan meluruskan pandangan masyarakat Muslim dengan sabar, serta terus berupaya menghidupkan spiritualitas umat. Mereka selalu menjaga nama baik Islam sebagai agama rahmat, tidak pernah berkata kasar, apalagi sampai terlibat kasus hukum. Merekalah para ulama yang sebenarnya tengah membela ajaran Islam ditengah berbagai macam tuduhan, pencemaran, dan intrik politik. 

Kesimpulannya, ‘bela ulama’, ‘bela habib’, ‘bela nabi’, ‘bela umat’, atau membela apapun yang berkaitan dengan aspek Islam, harus dimulai niat baik untuk mencerahkan berbagai kesalahpahaman. Nyatanya, banyak serangan terhadap Islam didasarkan pada hoax atau kebingungan, sehingga kebaikan hati dan kesabaran dari Muslim yang berpengetahuan luas sangat dibutuhkan dalam mengoreksi pemahaman yang keliru. Membela Islam dengan pengetahuan yang mencerahkan dan amal kebaikan adalah cara otentik umat Islam untuk merubah permusuhan menjadi persahabatan.