Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terungkap Fakta Kedekatan Munarman Dengan Kelompok ISIS

Kedekatan ISIS dan Munarman

Kepoingue.com - Beredar video pengakuan seorang terduga teroris, Ahmad Aulia (30) sebagai simpatisan Front Pembela Islam (FPI), menggemparkan publik. Lantaran dalam video tersebut, dia mengaku berbaiat kepada organisasi teroris internasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi. Yang lebih mengejutkan lagi, pembaiatan itu dihadiri oleh sejumlah pengurus FPI Pusat dan FPI Makassar. Dia pula menyebut, pembaiatan itu dihadiri oleh sekretaris Umum FPI, Munarman. Peristiwa tersebut terjadi pada 2015 silam.

Ia mengaku dibaiat bersama 100 orang simpatisan dan laskar FPI, yang bertempat di markas FPI, Jalan Sungai Limboto, Makassar. Setelah dibaiat, ia berterus terang sering mengikuti majelis taklim yang diadakan FPI Makassar, di Jalan Sungai Limboto. Pernyataan yang disebutkan Ahmad Aulia itu, seolah kian menambah bukti anggapan, bahwa FPI ini sangat dekat dengan jaringan teroris. Sebelumnya, sejumlah terduga teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditangkap oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri pada 6-7 Januari 2021.

Dari penangkapan tersebut, penyidik menemukan indikasi, bahwa mereka sempat aktif sebagai anggota FPI. Alhasil, Tim Densus 88 Antiteror Polri, memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan di Jakarta. Di sisi lain, beberapa waktu yang lalu, beredar video sekelompok orang yang berbaiat kepada organisasi terorisme dan menampilkan bendera berciri khas ISIS. Dalam video itu terlihat juga seorang Munarman, selaku pengurus FPI Pusat. Oleh karena itu, organisasi terlarang seperti FPI ini harus diwaspadai, mulai dari simpatisan, sampai pentolannya.

Sejak viralnya video itu, Munarman menjadi sorotan publik, karena sempat disebut menjadi saksi baiat mengakui ISIS oleh Ahmad Aulia. Lalu, dia juga pernah terlihat dalam video baiat yang menampilkan bendera ISIS. Kepergoknya Munarman itu menambah bukti, bahwa Munarman diduga terlibat dan dekat dengan jaringan teroris ISIS. Dia juga tidak bisa mengelak lagi, karena bukti-bukti banyak tersebar di jagad maya. Di samping itu, dari beberapa bukti yang ditemukan, seharusnya pihak berwajib secepatnya menyelidiki dan segera memeriksa Munarman.

Sementara itu, pada 2014, FPI pernah mengeluarkan maklumat, yang terang-terangan mendukung seruan yang dikeluarkan ISIS. Maklumat tersebut ditandatangani langsung oleh Ketua Umum DPP FPI, Muhsin Ahmad Alattas dan Sekretaris Umum Ja’far Shiddiq, serta Imam Besar FPI, Muhammad Rizieq Shihab. Kemudian, Rizieq Shihab pula sempat berorasi, untuk mendukung gerakan kelompok teroris ISIS. Tentunya hal itu sangat miris sekali. Menjabatnya Munarman sebagai anggota FPI, bahkan sempat menjadi Sekertaris Umum, membuktikan, bahwa dia otomatis mendukung maklumat FPI dan ucapan Rizieq Shihab.

Kita harus mempertanyakan, mengapa ratusan simpatisan FPI itu berbaiat dengan ISIS. Kemudian, kenapa pembaiatan tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh dan pengurus DPP FPI, Munarman. Padahal, ISIS itu sudah jelas terbukti telah menjadi organisasi teroris internasional. Kita harus mengantisipasi gerakan FPI ini. Bisa jadi mereka saat ini memanfaatkan momentum.

Sementara itu, sebelum FPI menjadi organisasi terlarang, mereka kerap kali melakukan aksi-aksi yang menunjukkan tingkat radikalisme paling tinggi dibandingkan gerakan Islam radikal lain di negeri ini. Berdasarkan catatan Wahid Institute Jakarta, eksklusivisme dan radikalisme FPI memiliki varian manifest yang sangat beragam, mulai dari penutupan tempat ibadah, hingga penggunaan cara-cara kekerasan. Tentunya, hal ini hampir sama dengan gerakan yang dilakukan ISIS.

Dengan demikian, dari beredarnya pengakuan seorang terduga teroris tersebut, menunjukkan bahwa Munarman diduga kuat memiliki kedekatan dengan jaringan teroris internasional ISIS. Apabila hal tersebut benar, maka Polri harus turun tangan dan cepat menindak tegas orang tersebut. Jika Polri membiarkan orang itu berkeliaran, maka dia akan membahayakan negeri dan dapat mengancam keamanan negara ini.

Penulis: Firman Maulana