Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sains Edutainment: PEMBELAJARAN LITERASI SAINS











            Pembelajaran
literasi sains merupakan pembelajaran yang didasarkan pada pengembangan
kemampuan pengetahuan sains di berbagai sendi kehidupan, mencari solusi
permasalahan, membuat keputusan, dan meningkatkan kualitas hidup (Holbrook dan
Rannikmae dalam Holbrook, 1998).


            Langkah-langkah
pembelajaran literasi sains diadopsi dan diadaptasi dari proyek Chemie im
Context
atau ChiK (Nentwig et al.,
2002) yang disesuaikan dengan kriteria pembelajaran berbasis literasi sains
Holbrook (1998) dengan urutan sebagai berikut:



a. Tahap Kontak (Contact
Phase)


            Pada tahap awal ini
dikemukakan isu-isu atau masalah-masalah yang ada di masyarakat atau menggali
berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar siswa yang dapat bersumber dari
berita, artikel, atau pengalaman siswa sendiri. Topik tersebut kemudian
dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari. Dengan begitu siswa diharapkan
menyadari pentingnya memahami materi tersebut.



b. Tahap Kuriositi (Curiosity Phase)


            Pada tahap ini
dikemukakan permasalahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengundang rasa penasaran dan
keingintahuan siswa. Pertanyaan ini berkaitan
dengan isu atau masalah yang telah dibicarakan dan untuk mampu menjawabnya,
siswa memerlukan pengetahuan dari materi yang akan dipelajari.



c. Tahap Elaborasi (Elaboration
Phase)



            Pada
tahap ini
dilakukan eksplorasi, pembentukan dan pemantapan konsep sampai pertanyaan pada
tahap kuriositi dapat terjawab. Eksplorasi, pembentukan dan pemantapan konsep tersebut dapat dilakukan
dengan berbagai metode, misalnya ceramah
bermakna, diskusi dan kegiatan praktikum, atau gabungan dari ketiganya. Melalui kegiatan inilah berbagai kemampuan siswa akan tergali lebih dalam,
baik aspek pengetahuan, keterampilan proses, maupun nilai dan sikap.



d. Tahap Pengambilan
Keputusan (Decision Making Phase)


            Pada tahap ini
dilakukan pengambilan keputusan bersama dari permasalahan yang dimunculkan pada
tahap kuriositi. Dengan begini, penyelesaian dan permasalhan yang muncul
tersebut jelas dan benar-benar dapat dipahami oleh siswa tanpa ada keraguan.



e. Tahap Nexus (Nexus Phase)


            Pada tahap ini
dilakukan proses pengambilan intisari (konsep dasar) dan materi yang
dipelajari, kemudian mengaplikasikannya pada konteks yang lain (dekontekstualsasi), artinya
masalah yang sama diberikan dalam konteks yang berbeda dimana memerlukan konsep
pengetahuan yang sama untuk pemecahannya (Nentwig et al,. 2002). Tahap ini dilakukan agar
pengetahuan yang diperoleh lebih aplikatif dan bermakna, tidak hanya di dalam
konteks pembelajaran tetapi juga di luar konteks pembelajaran.



f. Tahap Penilaian (Assesment
Phase)


            Pada tahap ini
dilakukan penilaian pembelajaran secara keseluruhan yang berguna untuk menilai
keberhasilan belajar siswa. Penilaian dilakukan bukan hanya untuk menilai aspek
pengetahuan atau konten saja, tetapi juga aspek proses, aspek konteks aplikasi,
dan aspek sikap sains.