Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bisa Tarantula Sebagai Alternatif Pereda Rasa Sakit - EB

Rasa sakit terjadi karena ada sel reseptor yang mendeteksi bahaya atau kerusakan. Kemudian impuls itu diteruskan melalui sel saraf sensorik. Sel saraf sensorik melanjutkan imuls ini ke sel saraf pusat. Saat di otak, terserah otak untuk memproses rasa sakit itu atau tidak.

Meskipun dikontrol otak, rasa sakit sangat sulit kita kendalikan. Rasa ini akan muncul sepersekian waktu setelah sesuatu terjadi pada area tertentu pada tubuh kita. Jika penyaktnya parah, maka rasa sakit yang timbul pun akan lebih terasa.

Bisa tarantula sebagai alternatif

Tarantula| SciTechDaily

Molekul-molekul dalam bisa tarantula bisa dimanfaatkan sebagai alternatif penghilang rasa sakit bagi orang yang menderita penyakit kronis.

Para peneliti telah merancang protein mini baru yang berdasar dari bisa tarantula. Protein mini ini bisa berpotensi meredakan banyak rasa sakit tanpa memberikan efek adiktif.

Mereka mengatakan bahwa alternatif darurat dari morfin dan bahan mirip morfin seperti fentanil dan oksikodon sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi krisis di seluruh dunia.

Obat-batan opioid | Harvard OC

Obat-obatan opioid terbukti sangat efektif dalam menghasilkan pereda sakit. Namun, jenis obat ini juga mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, seperti nausea, konstipasi, dan adiksi.

Saat obat opioid memiliki efek samping, ada studi yang menemukan bahwa protein dengan nama Huwentoxin-IV dapat digunakan sebagai pereda rasa sakit tubuh. Protein ini ditemukan dalam tubuh tarantula jenis Chinese language language Rooster Spider.

Para peneliti menggunakan 3 metode yang berbeda secara bersamaan. Desainnya menggabungkan protein, reseptor, dan membran yang ada di sekitar bisa tarantula.

Mereka mengubah protein Huwentoxin-IV itu dan membuatnya lebih ampuh pada reseptor rasa sakit yang lebih spesifik.

Hal ini memastikan dosis yang tepat bagi protein mini ini untuk manggabungkan dirinya ke reseptor yang diinginkan dan membran sel yang mengelilingi reseptor rasa sakit.

Saat diuji pada tikus lab, protein ini memberikan hasil yang baik dan efektif. Penemuan ini bisa mengarah ke metode alternatif mengatasi rasa sakit tanpa menimbulkan efek samping.