Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Hukum Anglo Saxson, Teori Dan Penjelasan Anglo Saxson

Sistem hukum Anglo Saxon mulai berkembang di Inggris pada abad XI
Sistem hukum Anglo Saxon berlaku di kawasan Amerika Serikat, Kanada dan
beberapa negara yang termasuk negara persemakmuran Inggris dan Australia,
termasuk Malaysia, Singapura, India Dan Negara Bekas Jajahan Inggris Lainnya
Ciri khas hukum Anglo Saxson

Sumber hukum dalam sistem hukum Anglo Saxon adalah “putusan-putusanh hakim pengadilan”(judicial decisions). Melalui putusan-putusan hakim yang kemudian mewujudkan kepastian hukum, prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum dibentuk dan menjadi kaidah yang mengikat umum

Disamping putusan hakim, kebiasaan-kebiasaan dan peraturan tertulis lainnya
juga di negara-negara Anglo Saxon juga “diakui” meskipun dalam pembentukannya kebiasan dan peraturan tertulis tetap berakar dari putusan-putusan pengadilan.

Namun demikian sumber-sumber hukum itu (putusan hakim, kebiasaan dan
peraturan tertulis) tidak tersusun secara sistematis dalam hierarki tertentu
sebagaimana yang berlakupada sistem hukum Eropa Kontinental.

Dalam sistem hukum ini “peranan” yang diberikan kepada seorang hakim“tidak hanya” sebagai pihak yang betugas menetapkan dan menafsirkanp peraturan-peraturan saja, tetapi hakim juga berperan besar dalam membentuk seluruh tata kehidupan dan menciptakan prinsip-prinsip hukum baru (yurisprudensi)

Dalam sistem anglo Saxon Hakim juga mempunyai wewenang yang luas untuk menafsirkan peraturan yang berlaku, termasuk menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yanga akan menjadi pegangan bagi hakim-hakim lain untuk memutuskan perkara
yang sejenisnya

Sistem hukum Anglo Saxon menganut doktrin “the doctrine of precedent”
atau “Stare Decisis”. Doktrin ini berpendapat bahwa dalam memutus suatu
perkara, seorang hakim “harus” mendasarkan putusannya pada prinsip
hukum yang sudah ada berdasarkan putusan hakim lain dalam perkara
sejenis sebelumnya (preseden)

Dalam hal putusan hakim sudah “out of date” maka hakim dapat menetapkan
putusan baru berdasarkan kepada nilai-nilai keadilan, kebenaran dan akal
sehat (common sense) yang dimilikinya

Sehingga terlihat bahwa sistem hukum Anglo Saxon mendasarkan kepada
pentingnya yurispridensi, sementara sistem hukum Eropa Kontinental lebih
mengutamakan perundang-undangan sebagai sumber hukumnya.Untuk itu, sistem hukum di Eropa Kontinental berpandangan bahwa hakim adalah “mulut undang-undang”, sementara itu dalam sistem Anglo Saxon  berpandanganbahwa hakim adalah “mulut precedent” yang mewajibkan kepadanya bahwa di dalam memutuskan perkara hakim itu harus selalum mengikuti putusan yang ada terlebih dahulu.Untuk itu hakim di pengadilan Anglo Saxon menggunakan prinsip “pembuat hukum sendiri” dengan melihat kasus-kasus dan fakta-fakta sebelumnya(judge made law), sehingga hakim dalam hal ini berarti hakim itu berfungsi sebagai legislatif atau pembuat undang-undang

Bertitik tolak bahwa prinsip-prinsip hukum yang timbul dan berkembang di
Anglo Saxon adalah berasal dari putusan-putusan hakim atas perkara yang dihadapi, maka seringkali disebut dengan “Case Law”
Sistem hukum ini di dalam prakteknya mengutamakan hukum yang tidak
tertulis yang sering disebut “Common Law” atau “Unwritten Law”. Artinya
kedudukan hukum kebiasaan dalam masyarakat lebih berperan dan selalu
menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Sementara itu, hukum
tertulis mengatur terbatas pada hal-hal pokok dan penting, misalnya tentang
konstitusi dan pengaturan kelembagaan.
Dalam sistem pengadilan di negara-negara Anglo Saxon menggunakan
“sistem juri”. Hal ini berbeda dengan sistem hukum Eropa Kontinental yang
menggunakan sistem peradilan berdasarkan “majelis hakim”