Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem waris khuntsa dalam hukum kewarisan Islam

Khuntsa adalah seseorang yang mempunyai dua alat kelamin pria dan wanita yang menyatu dalam individu yang satu. Para ulama membagi atau menggolongkan khuntsa kepada dua bagian, masing-masing khuntsa musykil dan khuntsa ghairu musykil

Bagian waris Islam untuk khuntsa
Khunsta musykil ialah orang yang mempunyai dua organ kelamin luaratau mempunyai penis dan lubang dekat vaginanya, Sedangkan khuntsa ghairumusykil diartikan sebagai orang yang mempunyai dua organ kelamin hanya salahsatu kelaminnya saja yang berfungsi. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan waris tidak disebutkan bahwa khuntsa dikecualikan dalam pembagian warisan

Bahkan, kebanyakan ahli fiqih berpendapat bahwa khuntsa, bayi dalam kandungan, orang hilang, tawanan perang, dan orang-orang yang mati bersamaan dalam suatu musibah atau kecelakaan, mendapat tempat khusus dalam pembahasan ilmu faraidh.Berarti bahwa orang-orang ini memiliki hak yang sama dengan ahli waris lain dalam keadaan normal dan tidak dapat diabaikan begitu saja

Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana cara menentukan status khuntsa menurut Hukum Waris Islam dan bagaimana cara pembagian waris khuntsa menurut Hukum Waris Islam


Pengertian hukum waris Islam


Istilah dalam bahasa Arab hukum kewarisan disebut faraidh, yang kemudian dalam kepustakaan ilmu hukum belum terdapat keragaman istilah yang digunakan dan sementara terdapat beberapa istilah seperti Hukum Waris, Hukum Warisan, Hukum Kewarisan, Hukum Pewarisan, Hukum Faraidh, Hukum Mewaris, dan lain-lain

Namun demikian dari segi kebahasaan, istilah yang sesuai untuk penyebutan “Hukum Faraidh” tersebut adalah “Hukum Kewarisan” yang juga dipergunakan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Kompilasi Hukum Islam Ketentuan dalam Pasal 171 huruf a kompilasi Hukum Islam memberikan rumusan masalah pengertian hukum kewarisan tersebut

Yaitu kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Menurut fiqih mawaris Hukum Kewarisan adalah fiqih yang berkaitan dengan pembagian harta warisan, mengetahui perhitungan agar sampai kepada mengetahui bagian harta warisan dan bagian

Dasar hukum waris Islam
Dasar dan sumber utama dari Hukum Kewarisan Islam sebagai hukum agama
(Islam) adalah nash atau teks yang terdapat dalam Al-Qur‟an Hadist dan Ijtihad Didalam Al-Qur‟an persoalan Hukum Kewarisan Islam diatur dalam beberapa surah berikut

1. QS. An-Nisa7
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan karib
kerabat; dan bagi perempuan ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-
bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah
ditetapkan

2. QS. An-Nisa 8
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang
miskin, maka beralih mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang baik

3. QS. An-Nisa 11
Allah mensyari‟atkan bagimu tentang (pembagian pusaka itu) anak-anakmu,
yaitu:bagian seorang anak anak laki-laki sama dengan dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk kedua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal itu tidak ada meninggalkan anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya, maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara,maka ibunya mendapat seperenam. (pembagian-pembagian tersebut diatas)sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat dan atau sudah dibayar utangnya.Tentang orang-orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak manfaatnya bagimu)ini adalah ketetapan dari Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana

4. QS. An-Nisa 12
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu, jika mereka tidak meninggalkan anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wassiat yang mereka buat atau sesudah dibayar utangnya.Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu ada mempunyai anak maka para istri
memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi
wasiat yang kamu buat atau sudah dibayar utang-utangmu

Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi meninggalkan seorang saudara laki-laki
(seibu saja) atau saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing diantara saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya atau sesduah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris) (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah;dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang





Macam-macam khuntsa dalam keterangan para ahli

1.Khuntsa Ghairu Musykil (Khuntsa Yang Tidak Sulit atau Jelas)
Yaitu khuntsa yang telah dapat di hukumi laki-laki atau perempuan dengan memperhatikan tanda-tandanya. Tanda-tandanya adalah dengan memperhatikan kepada alat kelamin itu sendiri maupun kepada sifat-sifatnya, apakah mirip kepada perempuan atau laki-laki

2. Khuntsa Musykil (Khuntsa Yang Sulit Ditentukan)
Khuntsa musykil adalah manusia yang dalam bentuk tubuhnya ada keganjilan, tidak dapat diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan, karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kelakiannya atau samar-samar tanda-tanda itu dan tidak dapat ditarjibkan

Pembagian hak waris khuntsa
Pembagian warisan untuk seorang khuntsa ghairu muskil dilihat dari statusnya
setelah melalui beberapa cara dengan melihat pertama kali keluarnya air seni
dan juga dilihat dari tanda-tanda kedewasaannya

Pembagian warisan seorang khuntsa musykil para ulama berbeda pendapat, menurut mazhab Hanafi khuntsa diberikan bagian terkecil dari dua perkiraan laki-laki dan perempuan, menurut mazhab Syafi’i khuntsa diberikan bagian terkecil dari bagian laki-laki dan perempuan lalu sisa harta nya ditangguhkan sampai status khuntsa jelas,menurut mazhab Maliki khuntsa mendapat kedua bagian terkecil dari perkiraan laki-laki dan perempuan yang kemudian jumlah dari perkiraan tersebut dibagi setengah