Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keindahan alam Dieng Wonosobo yang berbalut exosotis budaya nan apik

Kabut putih tak kala aku menepaki gunung dieng tak menyurutkan langkahku untuk sampai ke puncak dieng


Dieng, dataran tinggi yang kaya akan beragam wisata alam dan budayanya ini terlalu mempesona untuk tidak di jelajahi. Beruntung waktu aku menuju Dieng, Wonosbo sedang tidak hujan karna Wonosbo termasuk daerah di indonesia yang mempunyai curah hujan tinggi. Aku bersama temanku menaiki kendaraan roda dua waktu itu agar dapat menikmati pemandangan sisi kanan dan kiri jalan menuju Dieng. Pengalaman yang tidak akan kami dapat kalau kami naik kotak sabun.


Namum saat aku belom sampai setengah jalan menuju Dieng, kabut putih nan tebal molai turun, sehingga membuat jarak pandang menjadi dekat. Jadi aku dan temanku harus ekstra hati-hati mengingat salah satu sisi jalan adalah jurang. Udara dingin pun tak kalah menyambut kehadiran kami. Namun di balik semua itu aku masih bisa menikmati perjalananku. Tapi tepat di tengah jalan menanjak ada sebuah kecelakaan sepeda motor tepat di depan kami beruntung kami terhindar dari kecelakaan kecil itu. Mungkin kecelakaan itu terjadi karena kelebihan muatan dan kondisi jalan yang terus menanjak mengakibatkan kehilangan keseimbangan. Setelah kejadian itu aku melanjutkan perjalanan ku hingga sampai di Dieng menjelang magrib, aku dan temanku pun menyempatkan singgah di salah satu warung yang kebetulan aku kenal dengan pemilik warung tersebut sehingga kamipun dapat mengisi perut dengan gratis.

Kapan festival jazz dieng

Kebetulan saat aku berkunjung ke Dieng, sedang di adakanya acara Dieng Culture Fertival acara tahunan yang selalu di gelar pada bulan agustus tanggal 3-5. Pada hari pertama acara ini adalah Aksi Dieng Bersih. Pada malamnya wisatawan akan di suguhkan acara musik” jazz atas awan” para pengunjung akan menikmati malam dengan di iringi jazz di atas ketinggian 2093 mdpl. Pada hari keduanya ada banyak fertival yang di adakan seperti festival domba,bunga dan tumpeng, pada malam harinya yang menarik dan suasana paling romantis adalah saat pelepasan 1000 lampion, wow itu sangan sepektakuler bagiku, di sana para wisatawan akan berbondong-bondong membeli lampion untuk mereka lepaskan bersama orang-orang kesayangan dengan di iringi musik jazz, romantis bukan. Dan di hari terakhir acara ini kita akan di suguhkan acara ruwatan anak gimbal yang masih melekat erat sebagai kultur masyarakat Dieng, masyarakat Dieng percaya bahwa anak gimbal adalah titisan anak bajang dari samudra kidul, mereka merupakan titipan dari Eyang Agung Kolotede untuk anak laki-laki dan titipan dari nini Dewi Roro Ronce bagi anak perempuan, rambut gimbal yang di miliki bukanlah genetik turun temurun dari orang tua. Sebab pada mulanya anak gimbal ini terlahir dengan rambut normal, hingga perubahan rambut ini di tandai dengan demam dan panas tinggi selama beberapa hari dan akan sembuh sendiri, dan nanti setelah melewati prosesi ruwatan ini rambut akan tumbuh secara normal lagi.

Dalam prosesi ruwatan ini pun sangat unik karena ada sejumlah permintaan dari sang anak yang harus di turuti oleh orang tuanya. Karena mencukur rambut tanpa memenuhi permintaan sang anak akan berakibat fatal selain semakin menggimbal rambutnya juga akan mengganggu mental sang anak. Masyarakat Dieng percaya bahwa rambut gimbal tersebut di huni oleh makhluk gaib jadi permintaan sang anak tak lain berasal dari si penghuni tersebut maka kadang kala ada permintaan yang sukar untuk di turuti. Setelah semua permintaan di turuti anak gimbal tersebut akan di arak bak raja menuju komplek candi arjuna, setelah tembang dandang gula di lantunkan kemudian memulai pemotongan rambut gimbal. Selain prosesi ruwatan tersebut ada juga sejumlah tari tarian yang di suguhkan masyarakat Dieng sebagai iring iringan prosesi ruwatan tersebut. Karena aku menonton acara tersebut bersama orang dieng asli aku di perbolehkan masuk lokasi ruwatan secara gratis, tapi sayang saking banyaknya wisatawan aku tak bisa menonton lebih dekat, jadi aku menonton dari jarak jauh, tak apa meski dari jauh aku masih bisa menikmatinya.

Mungkin mempunyai anak gimbal terkesan merepotkan, tapi itu tidak berlaku bagi masyarakat Dieng karena keberadaan anak gimbal justru di anggap akan mendatangkan berkah. Memiliki anak gimbal menjadi kebanggaan tersendiri karena tidak semua anak di Dieng memiliki rambut gimbal dan dapat melewati fase ruwatan tersebut.

Fenomena tradisi ini sulit di terima logika bagi para wisatawan tapi tidak utntuk masyarakat Dieng karena tradisi ini sudah turun temurun dari para leluhur, justru lewat tradisi tahunan ini bisa mengundang antusiasme dan rasa penasaran para wisatawan untuk berkunjung ke Dieng. Dengan minatnya wisatawan ini bisa meningkatkan perekonomian Wonosobo khususnya daerah Dieng.

Selain ke elokan budayanya Dieng juga mempunyai seribu keindahan alamnya, antara lain tlaga warna, kawan si kidang, gunung prau, gunung sikunir, sumur jalatunda, dan berbagai pesona alam lainya. Sayang aku belom sempat menikmati semua itu karena memang liburan yang terbatas. Mungkin tak akan cukup waktu seminggu untuk menjelajahi ke eksotisan Dieng yang menjadi primadona wisata di daerah Wonosbo tersebut. Aku ingin sekali lagi bisa menikmati pesona alam Dieng, semoga saja aku bisa kesana lagi dan lebih banyak lagi menikmati keindahan alamnya

Ditulis : Anas Alif videya